IBARAT MELETAKKAN BATU KE-1000"


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Barangkali begitulah doktrin selama ini yang didengung-dengungkan para nasionalis. Dibalik benar dan salahnya akan hal itu ada beberapa hal yang dapat diambil hikmah dari ungkapan tersebut.

Abad berganti abad, masa berganti masa, ternyata kita dapat sikapi bahwa apa yang kita rasakan dan kita nikmati selama ini tentunya ada aktivitas atau terdapat peradaban jaman sebelum kita lahir. Rangkaian perjalanan dari masa ke masa tersebut membuat dinamika dan perubahan secara terus menerus di dunia ini bahkan perubahan akan terus terjadi sampai akhir jaman.

Kondisi apapun yang kita nikmati di hari ini pasti ada hal-hal yang men-trigger atau pemicu dari masa lalu atau kemarin-kemarin yang menyebabkan hari ini terjadi seperti saat sekarang ini. Dan apa yang kita lakukan saat sekarang ini akan mempengaruhi hari besok-besok. Rumah yang kita huni saat ini, makanan yang kita makan, pakaian yang kita pakai saat ini, dll ternyata pada sebelumnya sudah ada suatu proses sehingga tercipta sehingga kita dapat memakai atau menikmatinya, jika hal hal yang lalu itu melewati proses yang buruk maka apa yang kita rasakan menjadi buruk pula. Sebaliknya apabila proses yang dilakukan sebelumnya adalah baik maka apa yang kita rasakan akan dapat dinikmati saat ini akan menjadi baik pula.

Keterkaitan dari masa ke masa tersebut akan menimbulkan akumulasi permasalahan akibat tindakan dari pendahulu-pendahulu kita. Ibarat membuat sebuah rumah atau bangunan maka pembangunan dari awal hingga akhir harus selalu sinkron sehingga pasti ada keterkaitan secara terus-menerus dan setelah bangunan dianggap selesai maka fungsi dari bangunan ini akan membuat keterikatan dan membentuk kebiasaan kita di dalam ruang bangunan tersebut. Bangunan akan rusak jika tidak dirawat, bangunan akan awet jika dirawat dengan benar. Kualitas bangunan juga akan mempengaruhi apa yang kita rasakan.

Sebenarnya pesan apa yang ingin penulis sampaikan ini dari paparan diatas ?
Ternyata ibarat sebuah bangunan, dalam hidup kita sekarang ini apa yang kita lakukan merupakan perumpanaan kita sedang membangun sebuah gedung yang tinggi, kita semua adalah pelaku pembangunan gedung yang tinggi itu, komponen bangunan yang sangat mempengaruhi adalah bahwa ternyata ‘ibarat meletakkan batu yang ke-1000, ternyata telah ada pendahulu-pendahulu kita yang pernah meletakkan batu ke-1 s.d. k3-999 sehingga jatah kita hidup ini adalah meletakkan batu yang ke-1000, dimana dimana kita meletakkan batu yang ke-1000 itu terkadang kita tidak bisa mutlak memilih mau diletakkan di depan, di belakang, samping kanan atau samping kiri. Setelah kita meletakkan batu yang ke-1000 saat ini maka pasti aka nada batu yang ke 1001, 1002, 1003, dan seterusnya, siapa dia barangkali anak turun kita.
Sebagai upaya membangun kesadaran itu dalam kontek ‘ibarat meletakkan batu ke-1000’ maka kita harus memiliki komitmen :

1. Bahwa apa yang kita letakkan batu yang ke 1000 ini karena telah ada yang membangun batu-batu sebelumnya sehingga kita harus mengapresiasi secara positif kepada pendahulu-pendahulu kita. Dalam hal ini kita harus mendoakan dan berterimakasih pada orangtua kita.
2.Dalam meletakkan batu tersebut baik sebelumnya maupun sesudahnya maka kita harus saling menguatkan serta saling mengkokohkan. Jika tidak ada prinsip saling menguatkan maka bangunan akan rapuh dan mudah rusak.
3.Kita harus sadari bahwa apa yang kita lakukan akan mempengaruhi anak cucu turunan kita sehingga kita harus dapat memberikan yang terbaik dan perbuatan kita jangan sampai menyengsarakan generasi sesudah kita.

Terimakasih dan mohon maaf.

1 komentar:

  1. hi.. just dropping by here... have a nice day! http://kantahanan.blogspot.com/

    BalasHapus