BERBAGI PENGETAHUAN




Pernahkah anda memiliki Bos yang susah untuk diajak diskusi, atau Bos yang tidak pernah mengajak diskusi anak buahnya, untuk penyelesaian masalah atau tidak pernah melakukan pembinaan dan masukan pengetahuan kepada anak buahnya?
Barangkali tulisan ini akan dapat sedikit memberikan masukan dan mudah-mudahan dapat merubah pola pikir yang introvert tersebut agar dapat lebih terbuka (dalam batas tertentu) berdasarkan etika dan kesopanan yang berlaku mau memberikan pengetahuan kepada orang lain.
Dalam sebuah diskusi tentang haruskah kita berbagi pengetahuan kepada sesama, ternyata ada dua pendekatan :

1. Tidak semua pengetahuan itu dibagi karena ada hal hal yang special atau khusus sehingga kita tidak boleh berbagi terhadap seluruh pengetahuan kita. Hal ini dilakukan untuk menghargai kreatifitas dan inovasi seseorang contohnya : semacam resep masakan, sehingga semua dijadikan hak paten dan dapat menghasilkan keuntungan atas hak paten
2. Semua pengetahuan harus dibagi kepada sesama.

Untuk point satu barangkali sudah dilakukan dalam banyak hal misalnya hak cipta dan hak paten atau hak atas kekayaan intelektual seseorang. Sedangkan penulis akan menyampaikan penjelasan pada point dua tersebut diatas. Mengapa sih kita harus berbagi pengetahuan kepada sesama, setidaknya terdapat beberapa alasan kita harus berbagi pengetahuan :
  • Pertama, Pengetahuan adalah hal yang telah diberikan oleh Allah SWT, sehingga karena yang memberikan pengetahuan adalah Sang Pencipta maka betapa banyaknya pengetahuan di dunia ini. Sangking betapa luasnya pengetahuan Sang Pencipta itu, diibaratkan ‘jika pohon-pohon di dunia ini dijadikan penanya dan lautan dijadikan tintanya, maka tidak akan habis untuk menuliskan pengetahuan Allah SWT’. Dalam hal ini ternyata masih banyak pengetahuan yang ada didunia ini dan betapa banyaknya pengetahuan yang masih harus kita pelajari di dunia ini, bahkan sampai akhir hayat kita jika mau menggali pengetahuan maka tidak akan pernah selesai.
  • Kedua, Setiap manusia diciptakan di dunia ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Penulis yakin bahwa setiap manusia atau setiap individu pasti memiliki kelebihan sekalipun dia hanya seorang cleaning service, hanya dia mampu atau tidak mengolah kelebihannya tersebut. Jika kita dianugerahi kelebihan dan memiliki kelebihan bersikap tidak mau memberikan pengetahuan tentang kelebihan yang dimilikinya tersebut dapat diartikan bahwa orang tersebut menghambat orang lain untuk berkembang atau mengembangkan pengetahuan. Hal itu tentunya sesuai dengan ketentuan hukum, etika dan norma yang berlaku di negara ini.
  • Ketiga, Kita diciptakan di dunia ini adalah sebagai makhluk social, sehingga sebagai makhluk social mau tidak mau kita harus berhubungan dengan orang lain. Adakah manusia di dunia ini dari lahihr sampai meninggal tidak butuh orang lain? Dalam menjalin hubungan atau berinteraksi dengan orang lain tersebut tentunya tujuannya adalah demi kebaikan bersama. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain?
  • Keempat, Jika tidak berbagi pengetahuan kita akan menjadi orang yang celaka, mengapa celaka ? ungkapan berikut adalah ilustrasinya yaitu ‘hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, jika hari ini sama dengan hari kemarin termasuk orang yang rugi, jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka kita tergolong orang yang rugi, dan jika hari esok lebih buruk dari hari ini maka kita termasuk orang yang celaka (naudubillahi min dzalik). Terus apa hubungannya dengan berbagi dan celaka? Jika tidak berbagi kepada orang lain maka besar kemungkinan kita tidak akan pernah belajar lagi, namun jika berbagi pengetahuan maka secara tidak sadar apa yang telah kita bagikan kepada orang lain akan memacu kita atau mentrigger kita berusaha kearah yang lebih baik lagi dan pasti kita termotivasi menggali pengetahuan yang lebih lagi. Jika tidak mau selalu update pengetahuan hampir dapat dipastikan hari esok tidak lebih baik dari hari ini dan itulah termasuk orang yang celaka
Demikian, tulisan yang singkat ini mudah-mudahan bermanfaat, bukan bermaksud untuk menyinggung orang lain namun demi kemajuan kita bersama, mohon maaf dan terimakasih.

-Wallohua'lam bishowab-

IBARAT MELETAKKAN BATU KE-1000"


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Barangkali begitulah doktrin selama ini yang didengung-dengungkan para nasionalis. Dibalik benar dan salahnya akan hal itu ada beberapa hal yang dapat diambil hikmah dari ungkapan tersebut.

Abad berganti abad, masa berganti masa, ternyata kita dapat sikapi bahwa apa yang kita rasakan dan kita nikmati selama ini tentunya ada aktivitas atau terdapat peradaban jaman sebelum kita lahir. Rangkaian perjalanan dari masa ke masa tersebut membuat dinamika dan perubahan secara terus menerus di dunia ini bahkan perubahan akan terus terjadi sampai akhir jaman.

Kondisi apapun yang kita nikmati di hari ini pasti ada hal-hal yang men-trigger atau pemicu dari masa lalu atau kemarin-kemarin yang menyebabkan hari ini terjadi seperti saat sekarang ini. Dan apa yang kita lakukan saat sekarang ini akan mempengaruhi hari besok-besok. Rumah yang kita huni saat ini, makanan yang kita makan, pakaian yang kita pakai saat ini, dll ternyata pada sebelumnya sudah ada suatu proses sehingga tercipta sehingga kita dapat memakai atau menikmatinya, jika hal hal yang lalu itu melewati proses yang buruk maka apa yang kita rasakan menjadi buruk pula. Sebaliknya apabila proses yang dilakukan sebelumnya adalah baik maka apa yang kita rasakan akan dapat dinikmati saat ini akan menjadi baik pula.

Keterkaitan dari masa ke masa tersebut akan menimbulkan akumulasi permasalahan akibat tindakan dari pendahulu-pendahulu kita. Ibarat membuat sebuah rumah atau bangunan maka pembangunan dari awal hingga akhir harus selalu sinkron sehingga pasti ada keterkaitan secara terus-menerus dan setelah bangunan dianggap selesai maka fungsi dari bangunan ini akan membuat keterikatan dan membentuk kebiasaan kita di dalam ruang bangunan tersebut. Bangunan akan rusak jika tidak dirawat, bangunan akan awet jika dirawat dengan benar. Kualitas bangunan juga akan mempengaruhi apa yang kita rasakan.

Sebenarnya pesan apa yang ingin penulis sampaikan ini dari paparan diatas ?
Ternyata ibarat sebuah bangunan, dalam hidup kita sekarang ini apa yang kita lakukan merupakan perumpanaan kita sedang membangun sebuah gedung yang tinggi, kita semua adalah pelaku pembangunan gedung yang tinggi itu, komponen bangunan yang sangat mempengaruhi adalah bahwa ternyata ‘ibarat meletakkan batu yang ke-1000, ternyata telah ada pendahulu-pendahulu kita yang pernah meletakkan batu ke-1 s.d. k3-999 sehingga jatah kita hidup ini adalah meletakkan batu yang ke-1000, dimana dimana kita meletakkan batu yang ke-1000 itu terkadang kita tidak bisa mutlak memilih mau diletakkan di depan, di belakang, samping kanan atau samping kiri. Setelah kita meletakkan batu yang ke-1000 saat ini maka pasti aka nada batu yang ke 1001, 1002, 1003, dan seterusnya, siapa dia barangkali anak turun kita.
Sebagai upaya membangun kesadaran itu dalam kontek ‘ibarat meletakkan batu ke-1000’ maka kita harus memiliki komitmen :

1. Bahwa apa yang kita letakkan batu yang ke 1000 ini karena telah ada yang membangun batu-batu sebelumnya sehingga kita harus mengapresiasi secara positif kepada pendahulu-pendahulu kita. Dalam hal ini kita harus mendoakan dan berterimakasih pada orangtua kita.
2.Dalam meletakkan batu tersebut baik sebelumnya maupun sesudahnya maka kita harus saling menguatkan serta saling mengkokohkan. Jika tidak ada prinsip saling menguatkan maka bangunan akan rapuh dan mudah rusak.
3.Kita harus sadari bahwa apa yang kita lakukan akan mempengaruhi anak cucu turunan kita sehingga kita harus dapat memberikan yang terbaik dan perbuatan kita jangan sampai menyengsarakan generasi sesudah kita.

Terimakasih dan mohon maaf.

STUDI KASUS MANAJEMEN PEMASARAN : CITIBANK DI JEPANG


STUDI KASUS MANAJEMEN PEMASARAN : CITIBANK DI JEPANG
FASILITATOR : IKE JANITA DEWI, SE, MBA, Ph.D

Tugas dibuat oleh : NAMA : WIDI HARTANTA dalam SUSPIMDYA TAHUN 2009 di FEB UGM Yogyakarta


Kasus ini membahas pengalaman Citibank di Jepang. Walaupun diawali dengan situasi yang tidak mendukung keberadaan bank asing, peristiwa makro (krisis ekonomi) di Jepang dan kepandaian Citibank memanfaatkan situasi telah menjadikannya sebagai lembaga keuangan yang sangat terkemuka di Jepang.
  • Kasus ini akan memberikan gambaran tentang peran penting dari manajemen pemasaran stratejik yang jeli membaca situasi lingkungan makro dan tepat merumuskan strategi pemasaran.
  • Membaca dengan seksama studi kasus yang telah diterima.
  • Membuat ringkasan kasus (dipandu oleh pangantar kasus yang telah diberikan)
  • Mengidentifikasi masalah-masalah utama yang ditemukan dalam kasus.
  • Mengajukan alternatif strategi dan mengevaluasi masing-masing strategi.
  • Memberikan rekomendasi.
  • Menarik pelajaran dari kasus yang telah dipelajari untuk konteks pengembangan Perum Pegadaian di Indonesia.
  • Tahun 1986, ketika Citibank pertama membukan cabang di Jepang, bankir mereka bisa menguap saat bertugas karena sedikitnya klien yang datang ke Citibank.
  • Hal ini disebabkan karena sd th 1997, tujuh bank terbesar di Jepang adalah bank asal Jepang sendiri (Citibank ada di peringkat 10).
  • Selain itu, orang Jepang mempunyai sifat “xenophobic “ (takut pada yang berbau-bau asing) sehingga merasa kurang aman bertransaksi dengan bank asing.
  • Tetapi situasi tsb sudah berubah. Setelah Jepang mengalamai resesi dan sektor perbankan mengalami masalah, Citibank mulai dapat menembus pasar keuangan di Jepang.

Tentang Citibank (1)
  • Citibank N.A adalah lembaga keuangan yang lebih internasional dibanding pesaing-pesaingnya.
  • Citibank adalah bagian dari kelompok ini, yang merupakan hasil merger antara Citicorp dan Travelers Group pada 1998.
  • Akan tetapi, Citibank tidak selalu mengalami sukses, misalnya yang terjadi antara tahun 1980-1990-an di mana Citibank terkena dampak karena perubahan sistem pengambilan keputusan yang lebih di-desentralisasi-kan.
Tentang Citibank (2)
Citibank mempunyai jaringan global yang sangat luas, karena didukung oleh beberapa prinsip utama dalam strateginya:
  • Selalu ingin menjadi yang pertama untuk memasuki suatu pasar (first-mover advantage).
  • Pengalaman operasional Citibank , yang membuatnya bisa bertahan di banyak situasi sulit.
  • Mempunyai komitmen terhadap tempat di mana dia beroperasi (“Totally global and totally local”)
  • Selalu unggul dalam penggunaan teknologi dan inovasi produk.
  • Mempunyai program pelatihan terbaik dan mempunyai sistem pengembangan dan monitoring karir yang bagus.
Kebangkitan Citibank di Jepang
  • Masa sulit bagi Citibank (mulai saat berdirinya, yaitu 1902) disebabkan karena regulasi yang ketat, bank-bank Jepang yang kuat, dan citra “tidak aman” yang melekat pada bank-bank asing.
  • Sukses Citibank di 1990-an disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: melemahnya bank-bank Jepang, jatuhnya perusahaan2 sekuritas, dan perubahan besar dalam regulasi keuangan di Jepang.
  • Citibank bisa memanfaatkan situasi ini dengan baik melalui beberapa strategi, yaitu: penyediaan teknologi perbankan (ATM 24 jam), aliansi strategis dengan kantor pos Jepang (untuk membangun citra aman), dan aliansi strategis dengan Nikko Securities (perusahaan broker terbesar ke-3 di Jepang
Analisis Pesaing Citibank di Jepang
  • Pesaing Citibank meliputi bank lokal (Bank of Tokyo-Mitsubishi, Dai-Ichi Kangyo Bank, Sanwa Bank) dan bank asing (ABN Amro, Deutsche Bank, HSBC).
  • Pada waktu itu, tidak ada bank asing (kecuali Citibank) yang mempunyai operasi retail banking.
  • Jadi, Citibank mempunyai keunggulan kompetitif yang meliputi: Brand yang kuat, operasi global, inovasi, staf lokal yang berkualitas, dan produk dan jasa yang beragam dan berkualitas.


Strategi Pemasaran Citibank di Jepang (1)
  • Pasar Jepang menjadi semakin kecil (karena pemain yang lebih banyak), tetapi pemain-pemain utama mempunyai pangsa pasar yang lebih besar.
  • Perusahaan harus bekerja lebih keras untuk mempunyai Point-of-Difference (POD) dalam sebuah pasar yang mapan dengan marjin tipis.
  • Karena bank tidak boleh berkompetisi dalam hal suku bunga (karena sudah ditentukan oleh pemerintah), wilayah di mana bank dapat bersaing adalah dalam hal inovasi jenis jasa dan produk.
  • Citibank sukses dalam menawarkan POD melalui strategi produk yang diberi nama “One-stop shop’’ atau supermarket jasa keuangan dalam setting global dan pengembangan jasa yang unik dan inovasi-inovasi baru.

Product
Di bawah payung besar Citigroup, Citibank berencana untuk menyediakan beberapa jasa keuangan. “One-stop shop’’ akan melayani ritel, korporat, investasi, asuransi,, project financing, transaksi mata uang asing, dlll. group.

Price
Tidak ada perbedaan dalam ‘harga’ yang ditawarkan Citibank dibanding bank lainnya. Oleh karena itu, Citibank berusaha memaksimalkan nilai tambah kepada kliennya dengan menyediakan jasa yang lebih unik dan kreatif, dan sekaligus meminalkan biaya yang harus ditanggung konsumen melalui jasa telephone banking, Internet banking, dan direct mail.

Promotion
Citibank, dalam usaha untuk membangun brand equity dan menjadi “Coca-Cola of finance’’ mengambil strategi seperti co-branding, cross marketing, dan “Citibanking’’. Kartu Sony Citibank yang diluncurkan di AS berusaha mengasosiasikan Citibank dengan nama besar dunia. Di masa lalu, Citibank menyediakan jasa keuangan untuk mantan presiden AS, George Bush, untuk mempromosikan citra globalnya. Walaupun pernah dianggap diskriminatif, Citibank selalu menyediakan pelayanan kreatif dan superior untuk para konsumen besar. Pasca deregulasi, Citibank semakin aktif memasarkan diri melalui iklan surat kabar untuk menarget konsumen-konsumen besar.

Place
Citibank selalu aktif mencari saluran distribusi, seperti cabang baru, internet banking, ATM, dan telephone banking. Melalui telebanking and Internet banking, Citibank bisa mencapai rumah-rumah di Jepang. Walaupun aktif mendirikan cabang, hal ini bukan prioritas utama Citibank, karena biaya operasionalnya yang tinggi.


1. Apakah Citibank di Jepang dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan dan popularitas-nya? Kondisi bank-bank Jepang mungkin sedang menurun, tetapi mereka, seperti halnya perusahaan-perusahaan manufaktur Jepang yang telah berhasil menaklukan manufaktur Barat, akan menjadi pesaing yang sangat kuat.
Lingkungan Pemasaran Stratejik

Analisis Lingkungan Makro, yang meliputi Analisis Politik, Ekonomi, dan Budaya.
Pada saat Citibank memasuki pangsa pasar di Jepang pada situasi harga saham / efek yang menurun sehingga hal ini dimanfaatkan sebagai peluang kebangkitan Citibank memasuki pangsa pasar di Jepang, Citibank pertumbuhan menyembur disaat terjadi krisis keuangan di Jepang, Mulai dari tahun 1995 perdagangan obligasi yang memimpin Federal Reserve untuk mengusir Daiwa Bank dari Amerika Serikat ke tiga runtuhnya pada tahun 1998 dari Efek Sanyo, Yamaichi Efek, dan Hokkaido Takushoku Bank.
Budaya yang semula anti asing menjadi berubah, paradigma bagi masyarakat Jepang. Resesi ekonomi di Jepang dan bank-bank domestik terbebani kredit macet sekitar $ 1 triliun, Citibank membuat beberapa terobosan serius ke pasar Jepang.

Analisis Konsumen
Dari permasalahan keuangan di jepang, menyebabkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap bank-bank Jepang mulai terkikis dan konsumen yang mempersepsikan citra aman terhadap bank-bank ini nasional Jepang menjadi berubah karena adanya kredit macet. Konsumen kemudian berubah paradigma dan mencari alternative tempat menyimpan uang yang aman. Pada saat yang sama, Citibank menawarkan layanan yang inovatif yaitu memberikan alternative produk yang menguntungkan bagi konsumen. Contoh layanan yang inovatif adalah multicurrency account. Ketika nilai dolar jatuh di bawah 100 yen dalam tahun 1995, banyak konsumen mengerti bahwa jepang skr mereka sedang rency ¬ harga ke dalam stratosfir dari yang akhirnya akan turun, dan Citibank menawarkan cara yang paling nyaman bagi para penabung waktu kecil untuk memutar pasar uang. The multicurrency account itu merupakan daya tarik bagi para pelanggan, karena mereka bisa memindahkan uang ke dolar dan dapatkan suku bunga yang lebih tinggi tetapi jika menginginkan uang di kurs kembali ke yen dengan cukup menggunakan layanan tele-banking setiap saat baik siang ataupun malam. Dari produk ini Citibank mencatat panggilan dari 315.000 calon pelanggan dan saat ini; pada hari berikutnya, orang-orang dikerumuni sembilan belas bank cabang di pertarungan untuk membeli dolar yang tiba-tiba murah. Melihat keberhasilan ini, Citibank telah mengembangkan rencana ambisius untuk Jepang. It berharap untuk mencapai 35 juta rekening pada tahun 2010

Analisis Pesaing
Pesaing Citibank meliputi bank lokal (Bank of Tokyo-Mitsubishi, Dai-Ichi Kangyo Bank, Sanwa Bank) dan bank asing (ABN Amro, Deutsche Bank, HSBC). Pada waktu itu, tidak ada bank asing (kecuali Citibank) yang mempunyai operasi retail banking. Jadi, Citibank mempunyai keunggulan kompetitif yang meliputi: Brand yang kuat, operasi global, inovasi, staf lokal yang berkualitas, dan produk dan jasa yang beragam dan berkualitas. Semakin banyak pesaing maka perebutan pangsa pasar perbankan menjadi semakin sulit dan semakin sempit, untuk itu maka Citibank harus menciptakan POD (Point of Differensiasi) yaitu menciptakan nilai tambah kepada konsumen dan keuntungan yang diperoleh oleh konsumen tidak disediakan oleh pesaing.
Strategi Segmentasi, Targeting, dan Positioning.
Inovatif bank dengan menawarkan layanan seperti dua puluh-empat ATM dan telebanking. Layanan ini diambil untuk diberikan di Amerika Serikat tetapi hal yang baru di Jepang. Hal ini juga menjadi populer di antara para pelanggan dan mendapatkan publisitas gratis yang luar biasa dengan menelan biaya beberapa bank-bank lain biaya ketika pelanggan mengakses rekening Citibank di bank saingan 'ATM. Dengan melakukan ini, Citibank telah, pada dasarnya, menambahkan ribuan ATM dengan menggunakan para pesaingnya 'infrastruktur
Citibank menggunakan mantan presiden Amerika Serikat, George Bush, untuk mempromosikan citra globalnya. Walaupun dikritik sebagai diskriminatif, Citibank telah secara efisien dan menguntungkan menggunakan pendekatan yang tidak biasa terhadap para pelanggan kaya. Citibank dalam pendekatan kepada pelanggan kaya itu sangat kreatif dan unik. Pada April 1998, Jepang mulai menderegulasi dengan bank. Koichiro Kitade, Citibank kepala divisi bank swasta di Tokyo, tahu sudah waktunya untuk mencoba pendekatan pemasaran baru untuk memperluas pangsa pasar melalui advertising di koran, Citibank mampu mengaet orang kaya kaya mau menempatkan dananya sekitar US $ 750.000.

Perencanaan Pemasaran (Marketing Plan)

Produk
Pada saat perusahaan efek / saham dalam kondisi terpuruk dan bank-bank local mengalami kredit macet karena Citibank menawarkan produk yang flexible, mudah diakses, dan seolah menawarkan seluruh kebutuhan dari pelanggan tersedia semuanya dengan konsep one stop shoping atau supermarket jasa keuangan.

Harga
Bahwa kebijakan harga di Jepang telah diatur yaitu tidak ada bedanya dengan bank-bank lain. Oleh karena itu, Citibank mencoba maksimalkan nilai tambah (added value) kepada para pelanggannya dengan menyediakan produk inovatif dan pelayanan kreatif, dengan cara, meminimalkan biaya dan pengeluaran pelanggan dengan tele-banking, internet banking, dan direct mail untuk membuka rekening. Dengan peran teknologi hal itu akan membuat lebih efisian dan mempermudah proses untuk menggunakan produk Citibank.

Promosi
Citibank, berupaya membangun ekuitas merek yang kuat, dan dalam mengejar untuk menjadi super market keuangan menggunakan strategi''seperti co-branding, integrated pemasaran, dan" Citibanking''yaitu meluncurkan Sony Citibank Card serta menciptakan dengan nama-nama top di dunia.

Tempat
Citibank terus-menerus dan secara aktif memperluas semua jenis saluran distribusi, seperti cabang-cabang baru, internet banking, biaya rendah jaringan ATM nasional, dan tele-banking. Dengan layanan seperti telebanking dan Internet banking, Citibank berdampak pada perluasan saluran distribusi kepada pelanggan hingga ke rumah-rumah. Citibank menambahkan lebih banyak cabang-cabang melalui jaringan cabang pesaingnya, bukan merupakan bagian dari strategi. "Menjamurnya cabang-cabang yang membuat bank-bank Jepang tersebut berhasil akan menjadi hal yang membunuh subishi ($ 691 miliar aset) dari posisi pertama untuk menjadi perusahaan keuangan terbesar ($ 698 milyar pada sebagai ¬ set) di dunia. Kelompok memperoleh pendapatan bersih $ 5,8 milyar pada tahun 1998

2. Diskusikan strategi-strategi ekspansi pasar yang telah diambil oleh Citibank. Apakah strategi-strategi tersebut akan bisa mewujudkan bank dengan “One-stop shop’’?
Karakteristik Pemasaran Jasa.

Citibank merapkan pola menjalin dan mengembangkan ikatan yang kuat dengan masyarakat setempat dan dengan bank sentral setempat. Mempekerjakan staf lokal 95 persen dari pekerjaan Citibank di luar Amerika Serikat pada tahun 1997. (hal ini Citibank menggunakan internal branding sebagai kekuatan untuk mendekati lingkungan setempat. Peranan Teknologi Informasi yang sudah ditransfer dan staf lokal yang dilatih.
Citibank pada saat kondisi sulit membolehkan para pemasarnya keluar Kantor untuk memasarkan secara personal selling, hal ini lebih kepada startegi untuk mendekatkan para pemasar yang sudah terlatih untuk mengetahui keinginan dari konsumen dan membuat interaksi kepada konsumen, sebab tanpa adanya interaksi antara pemasar dengan konsumen dapat dipastikan konsumen tidak akan loyal dalam menggunakan produk yang ditawarkan. Strategi pendekatan pasar dengan pola personal selling sangat efektif untuk produk yang baru diluncurkan. Pola ini juga mengedepankan saluran pemasaran melalui WOM (word of mouth) yaitu konsumen yang sudah loyal akan memberitahukan dan merekomendasikan produk kepada orang lain, dan hal ini merupakan pemasaran gratis karena citra perusahaan dibangun dari konsumen yang setia tanpa diberikan kompensasi.

Pada saat ekonomi Jepang tidak baik dan tingkat kepercayaan masyarakat pada perbankan nasional menurun maka Citibank menawarkan produk yang mudah diakses oleh konsumen seperti adanya kemudahan ATM yang beroperasi 24 jam, kemudian adanya tabungan dengan dalam bentuk dollar yang sewaktu-waktu dapat dicairkan dalam bentuk yen. Akses yang mudah melalui tele banking, internet banking semakin memperkuat image bahwa

Lingkungan Pemasaran Jasa Keuangan.
Citibank adalah berpikir tentang masuk ke dalam aliansi dengan Asahi Bank dan Tokai Bank. Aliansi ini akan membantu Citibank untuk memiliki akses yang lebih baik untuk tabungan besar dari Jepang, dan potensi dari strategic alliance tersebut berpotensi mampu menghimpun dana sekitar $ 9 triliun.
Penggunaan pola strategic alliance merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan citra Citibank di Jepang, dengan merangkul pihak-pihak local maka secara publisitas nama Citibank akan terangkat dan merubah paradigma yang lama menjadi tidak pobi lagi terhadap bank asing. Dengan kepercayaan dari konsumen yang semakin meningkat hal ini menjadi peluang bagi Citibank untuk lebih mengembangkan mempermudah memperoleh pangsa pasar yang lebih luas dengan menawarkan produk yang inovatif.




PERTANYAAN YANG BERKAITAN DENGAN PEGADAIAN

1. Bagaimanakah analisis kita atas lingkungan makro PT. Pegadaian?
2. Bagaimanakah lingkungan makro tersebut akan mempengaruhi pengambilan strategi pemasaran?
3. Bagaimanakah kita menggambarkan profil konsumen sasaran PT. Pegadaian?
4. Bagaimanakah kita menggambarkan profil persaingan yang dihadapi oleh PT. Pegadaian?
5. Apakah strategi-strategi pemasaran yang telah diambil?

JAWAB :
1. Analisis Makro dari Pegadaian :
Lingkungan makro Pegadaian meliputi factor-faktor :
• Demografi
Secara Demografi konsumen atau nasabah dari Perum Pegadaian diperuntukkan dari kalangan menengah ke bawah, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk kalangan atas namun saat ini lingkungan demografi yang menjadi target konsumen Pegadaian adalah masyarakat menengah ke bawah, Berdasarkan Pakar Ekonomi yaitu Prahalac, menyatakan 40% perekonomian di dunia adalah masyarakat ekonomi kecil dan mikro, hal ini mengisyaratkan bawah perekonomian terbesar adalah pada level menengah ke bawah. Hal ini menunjukkan bahwa betapa besarnya peluang untuk meraih pangsa pasar kelas menengah ke bawah.
• Ekonomi
Dengan akan disahkannya undang-undang pergadaian oleh pemerintah, hal ini merupakan ancaman jika pihak luar akan menjalankan bisnis gadai. Untuk itu Pegadaian harus menciptakan POD (point of different) agar Pegadain tidak mudah ditiru oleh pihak asing atau menciptakan sesuatu yang berbeda dari pesaing.
• Sosio-Kultural
Bahwa Pegadaian saat ini masih dipandang sebagaian orang dengan rasa malu untuk menggadaiakan barangnya, terutama pada kultur budaya Jawa yang dengan sikap ewuh pekewuh ini menjadikan hambatan masyarakat tidak mau menggunakan jasa Pegadaian. Hal ini merupakan tantangan bagai Pegadaian untuk merubah citra yang semula merupakan tempat yang dianggap malu untuk mengambil kredit harus dirubah menjadi lembaga yang dinamik dan menjadi patner
• Alam
Bahwa kondisi alam yang terjadi di beberapa tempat adanya gempa dan tsunami menjadikan kondisi dibeberapa tempat harus diwaspadai agar barang jaminan yang diagunkan di Pegadaian tetap aman.
• Teknologi
Peran teknologi informasi mengharuskan Pegadaian harus segera on line, mengingat tuntutan nasabah yang semakin komplek harus diantisipasi oleh perbaikan layanan yang salah satunya adalah dengan penyempurnaan di bidang teknologi informasi.
• Politik-hukum
Untuk lingkungan Politik dan hukum sedikit banyak akan mempengaruhi perekonomian secara nasional, sehingga keadaan ekonomi dari pengaruh politik dan hukum tadi akan mempengaruhi kebijakan pemerintah. Meskipun dampaknya secara tidak langsung hal ini juga perlu dicermati

2.Lingkungan makro tersebut akan mempengaruhi pengambilan strategi pemasaran

Keputusan strategi pemasaran harus berdasarkan interaksi elemen Strategic Triangle (3 C’s) dan faktor lingkungan. Adapun keputusan strategi pemasaran, yaitu:

1. Where to compete, keputusan dalam memilih pasar sasaran tepat bagi Pegadaian, kemudian mencari konsumen yang seperti apa yang membutuhkan jasa Pegadaian dan dimana Pegadaian akan beroperasi;
2. How to compete, keputusan bagaimana perusahaan merespon persaingan, memilih aktivitas pemasaran yang tepat pada pasar sasaran dan berbeda dari pesaingnya;
3. When to compete, keputusan kapan waktu yang tepat dalam merespon persaingan. Keputusan pemilihan waktu ditentukan berdasarkan:

  • Market knowledge. Pengetahuan mengenai kapan kondisi pasar yang paling menguntungkan, Pegadaian telah membidik pasar kecil dan mikro, untuk itu maka Pegadaian harus mengetahui karekteristik kebutuhan dan keinginan dalam segmen pasar mikro dan kecil;
  • Competition. Keputusan berdasarkan posisi perusahaan dalam persaingan, Pegadaian saat ini sebagai pemimpin pasar dalam gadai dan jumlah pesaing potensial akan bermunculan saat undang-undang gadai di luncurkan;
  • Company readiness, Kesiapan perusahaan dalam menghadapi persaingan, berdasarkan informasi internal yaitu kelemahan dan kekuatan perusahaan

3. Bagaimanakah kita menggambarkan profil konsumen sasaran PT. Pegadaian
Bahwa profil konsumen di Pegadaian yang terbesar adalah pada jasa gadai (KCA) kredit cepat aman dengan pinjaman rata-rata antara Rp 150.000 s.d. 20.000.000,- sedangkan untuk usaha lain juga merepresentasikan konsumen untuk masyarakat menengah ke bawah. Kelompok masyarakat menegah kebawah ini masih merupakan konsumen Pegadaian, mengingat sejarah misi Pegadaian yang lama yaitu membantu masyarakat kecil agar sejahtera
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen Pegadaian untuk memakai Produk Pegadaian adalah :
  • Konsumen Pegadaian menganggap Pegadaian merupakan tempat yang aman untuk menjaminkan barang dan memperoleh kredit.
  • Pelayanan yang dilakukan oleh Pegadaian cukup cepat yaitu dengan motto pelayanan 15 menit. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen Pegadaian ingin pelayanan yang cepat
  • Kemudian konsumen menghendaki proses pengambilan kredit secara mudah dan tidak berbelit-belit.
  • Segmen kalangan terbanyak adalah ibu-ibu rumah tangga
  • Kegiatan usaha konsumen rata-rata adalah pedagang

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pelanggan Pegadaian adalah:
  • Jaringan Pegadaian (kantor cabang) tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan ada dimana-mana, Produk gadai masih menjadi produk yang paling besar dalam kontribusi usaha Pegadaian.
  • Bunga Pegadaian masih cukup murah sehingga Pelanggan Pegadaian masih dianggap murah.
  • Kebanyakan konsumen yang mengambil produk jasa gadai dengan pinjaman antara Rp 500.000,- s.d. Rp 20 juta. Hal tersebut merepresentasikan kelompok masyarakat menengah ke bawah.


4. Menggambarkan profil persaingan yang dihadapi oleh PT. Pegadaian
Bahwa pesaing yang dihadapi oleh Pegadaian adalah :
  • Perbankan yang menjalankan bisnis gadai melalui system syariah (danamon syariah, Mega Syariah, Bank Jabar Banten syariah, Bank BTPN, BNI Syariah, BRI Syariah, dll)
  • Lembaga pembiayaan (finance) atau lembaga pembiayaan sector kendaraan bermotor, elektronik dan lain-lain
  • Bank Perkreditan Rakyat,
  • Baitul Mall Watamil (BMT),
  • Koperasi simpan pinjam
  • Lembaga kredit pedesaan.
  • Toko Emas yang melaksanakan jasa gadai emas

Berbagai cara pesaing-pesaing Pegadaian menjalankan usahanya karena bisnis gadai diperkirakan memiliki resiko yang kecil karena barang jaminan yang bernilai seperti emas dapat dicairkan dengan cepat. Namun hal ini perlu diwaspadai mengingat pesaing yang ada saat ini berani mengeluarkan kredit tanpa agunan, dengan proses yang lebih cepat dan bunga yang murah. Pegadaian harus menciptakan produk yang mudah dan murah namun tetap mengedepankan aspek resiko yang dihadapi. Mengingat ketatnya persaingan untuk memperebutkan pada pangsa pasar menengah kebawah ini maka Pegadain harus menggunakan differesiasi dan mengedepankan customers added value atau pertambahan nilai yang diperoleh oleh pelanggan. Selain itu Pegadaian harus menerapkan strategic alliance kepada perbankan yang memiliki modal murah untuk diputar dalam bisnis Pegadaian. Rekayasa financial atau financial engginering akan menghasilkan produk yang bervariatif dan inovatif dalam merebut pangsa pasar menengah ke bawah sehingga nasabah tidak beralih ke pesaing

5. Apakah strategi-strategi pemasaran yang telah diambil Pegadaian
  • Pegadaian merubah visi yaitu pertama mengutamakan bisnis utama gadai diganti menjadi menjadi champion dalam usaha gadai dan fiducia. Hal ini tentunya berdampak pada segmen pangsa pasar yang dilebih besar lagiyaitu dengan menciptakan berbagai macam produk sehingga konsumen dapat memilih kesesuaian antara kebutuhan dengan produk di Pegadaian. Seperti Kreasi (kredit angsuran system fiducia), Krasida (Kredit angsuran system gadai), Krista (kredit usaha rumah tangga), Kucica (Kiriman uang cara instan cepat dan aman), Arrum (kreasi dengan system syariah), MULIA (murabahah logam mulia investasi abadi), Jasa titipan, Jasa taksiran, Kresna (kredit serba guna), jasa sewa gedung, balai lelang,
  • Pemasaran yang telah dilakukan melalui iklan dengan menyewa endoserment Dude Herlino dan Krisdayanti. Hal tersebut dimaksudkan untuk merubah mindset Konsumen bahwa Pegadaian semakin dinamis untuk kalangan eksekutif muda serta untuk mendongkrak peningkatan citra. Dengan penggunaan endorsement ini Pegadaian selain mengincar segmen menengah ke bawah juga ingin mendekatkan diri pada kalangan yang atas (flexible)
  • Strategi yang digunakan juga dengan melakukan penetrasi pasar yaitu membuka unit pelayanan cabang (UPC) di pasar-pasar dan central-central keramaian. Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan pada konsumen dan untuk kota yang cenderung metropolis sangat memudahkan nasabah dalam mengakses ke Pegadaian, karena tingkat kemacetan di kota hal ini menjadi pertimbangan untuk lebih dekat ke pusat-pusat keramaian.
  • Untuk personal selling Perum Pegadaian terus melakukan sosialisasi produk baru atau produk usaha lain ke para pegawai agar menjadi internal branding sehingga mampu menjelaskan produk yang dimiliki oleh Pegadaian. Untuk penguatan internal branding tersebut, Pegadaian juga menerapkan standar nilai budaya perusaan Intan (Inovatif, Nilai moral tinggi, Terampil, Adi layanan dan Nuansa citra).
  • Mengingat dalam bisnis gadai, Pegadaian masih menjadi pemimpin di kelasnya sehingga banyak lembaga kredit yang ingin menirunya (dimana ada Pegadaian pesaing berusaha untuk mendirikan usaha di dekatnya) untuk itu Pegadaian mengedepankan jargon ‘mengatasi masalah tanpa masalah’ serta mengedepankan pengalaman / memiliki tenaga yang terampil dalam usaha gadai hal ini agar lebih dipercaya oleh konsumen dan menimbulkan benak konsumen kalo punya barang bernilai ingin kredit Pegadaian agar menjadi pilihan prioritas utama.

Segmentasi Pasar dengan responden 50 Mahasiswa di Jogja, analisis melalui program SPSS

Jawaban Tugas Segmentasi Pasar, disurvey dari responden yang bersifat homogen yaitu mahasiswa UGM Yogyakarta sejumlah 50 orang, untuk menentukan berada pada segmen mana. Hal ini penting sebagai dasar penentuan strategi membidik pasar mahasiswa, meskipun tidak mewakili sebagai dasar ukuran secara umum tapi hal ini sebagai pencerahan bagi lembaga jasa keuangan kredit untuk mengetahui kemauan dari responden ini. Lebih kurangnya mohon maaf jika ada analisa yang tidak sesuai, karena ini didedikasikan untuk akademisi dan freedom academic..

NAMA : WIDI HARTANTA
NO URUT : 29
SUSPIMDYA PERUM PEGADAIAN TAHUN 2009
TUGAS DARI : DR. SAHID NUGROHO, M.Sc.


ANALISA I
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Q9 50 3,00 5,00 4,4400 ,61146
Q6 50 3,00 5,00 4,3000 ,78895
Q11 50 3,00 5,00 4,2400 ,62466
Q2 50 3,00 5,00 4,2400 ,55549
Q10 50 2,00 5,00 4,1400 ,63920
Q8 50 2,00 5,00 4,1000 ,67763
Q7 50 2,00 5,00 4,0400 ,69869
Q12 50 2,00 5,00 3,9200 ,80407
Q15 49 2,00 5,00 3,9184 ,81232
Q1 50 1,00 5,00 3,9000 ,73540
Q14 50 1,00 5,00 3,8600 ,88086
Q13 50 1,00 5,00 3,6000 ,98974
Q3 50 2,00 5,00 3,4600 ,95212
Q4 50 1,00 5,00 3,4200 1,07076
Q20 50 1,00 5,00 3,4000 ,90351
Q5 50 1,00 5,00 3,2000 1,01015
Q17 50 1,00 5,00 3,1000 ,86307
Q19 50 1,00 4,00 2,9000 ,88641
Q18 50 1,00 4,00 2,6600 ,91718
Q16 50 1,00 5,00 2,5200 1,07362
Valid N (listwise) 49

Dari analisa Diskriptive statistic (melihat pola tendensi ) dari sampel yang ada menunjukkan hal-hal sebagai berikut :
- Prioritas dari sampling tersebut menunjukkan bahwa hal penting yang menjadikan konsumen dalam menggunakan jasa keuangan secara berurutan yaitu :
Q9 : Keamanan agunan kredit
Q6 : Besarnya tingkat bunga kredit
Q11 : Besar angsuran kredit
Q2 : saran dan masukan dari orang lain
Q10 : Jangka waktu Kredit
Q8 : Persaratan barang agunan kredit
Q7 : Sistem perhitungan bunga kredit : flat atau menurun
Q12 : lama proses administrasi kredit
Q15 : keramahan petugas kredit
Q1 : informasi yang disajikan di iklan
Q14 : kemampuan petugas kredit memberikan konsultasi
Q13 : kemampuan petugas kredit memberika informasi
Q3 : Informasi peringkat lembaga
Q4 : Nama Perusahaan
Q20 : Fasilitas ruang tunggu
Q5 : Negara asal perusahaan
Q17 : kualitas gedung outlet
Q19 : fasilitas parker gedung
Q18 : jarak outlet dari rumah
Q16 : penampilan fisik petugas kredit

Keamanan agunan kredit menjadi prioritas utama, hal ini menurut saya sangat wajar karena calon konsumen tidak mau agunan yang dipakai sebagai jaminan tersebut tidak aman, sehingga kemungkinan besar konsumen akan memilih lembaga yang menawarkan tingkat keamanan tinggi karena hal ini merupakan hal utama maka lembaga perkreditan tersebut harus dapat menyajikan system dan prosedur yang membuat konsumen yakin bahwa agunanya tidak akan disalahgunakan dan pasti aman.
Secara garis besar pada urutan berikutnya adalah tingkat bunga kredit , besarnya angsuran kredit, jangka waktu kredit hal ini menunjukkan sifat rasionalitas dari responden, responden cenderung sensitive dan mempertimbangkan factor-faktor system dari produk jasa kredit keuangan yaitu terhadap bunga kredit, besarnya angsuran atau cicilan dan jangka waktu kredit, persaratan barang agunan kredit, sistem perhitungan bunga kredit : flat atau menurun dan lama proses administrasi kredit. Pada posisi ini juga mencerminkan efektifitas jasa kredit keuangan dikenal dan digunakan yaitu melalui saran dan masukan dari orang lain. Rupanya rekomendasi dari orang yang telah menggunakan jasa kredit keuangan sangat mempengaruhi keputusan dari responden untuk menggunakan jasa kredit tersebut.
Prioritas pilihan berikutnya yaitu responden yang menginginkan tampilan dalam layanan atau kualitas dari pelayanan, citra jasa kredit keuangan, bagaimana cara melayani yang terlihat nyata dan menjadi pilihan bagi responden saat memilih lembaga kredit keuangan yaitu : keramahan petugas kredit, informasi yang disajikan di iklan (keefektifan iklan dalam memberikan informasi), kemampuan petugas kredit memberikan konsultasi, kemampuan petugas kredit memberikan informasi (kejelasan petugas dalam menyampaikan produk), Informasi peringkat lembaga, nama perusahaan dan negara asal perusahaan (mencerminkan popularitas dari lembaga jasa kredit keuangan),
Sedangkan penampilan fisik seperti fasilitas ruang tunggu, kualitas gedung outlet, dan fasilitas parkir gedung menjadi pertimbangan dalam memilih lembaga kredit keuangan
Sedangkan pada posisi terakhir bahwa responden tidak mempermasalahkan jarak outlet dari rumah dan penampilan fisik petugas kredit bukan menjadi hal utama dalam membidik segmen responden ini.
Bagi saya, hal ini menunjukkan agar Perum Pegadaian harus melakukan pendekatan dan mengedepankan aspek keamanan dalam memberikan kredit. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini dengan agunan yang semakin besar para pelaku niat kejahatan selalu mengincar Perum Pegadaian sebagai sasaran perampokan, hal ini harus diimbangi dengan perbaikan sarana keamanan (petugas keamanan, CCTV, Alarm, dll) disisi yang lain Pegadaian harus meyakinkan bahwa apabila menggunakan jasa kredit dari Pegadaian, agunan dijamin aman. Berikutnya baru memperbaiki harga atau bunga kredit, system angsuran agar menarik pengguna jasa kredit.

ANALISA II
Rotated Component Matrix(a)

Component
1 2 3 4 5 6
Q7 ,808
Q6 ,769
Q10 ,732
Q11 ,668
Q8 ,659
Q12 ,576
Q9
Q13 ,849
Q14 ,825
Q15 ,662
Q16 ,648
Q19 ,771
Q17 ,750
Q18 ,746
Q3 ,544
Q20 ,535
Q5 ,840
Q4 ,827
Q2 ,897
Q1 ,853
Extraction Method: Principal Component Analysis.
Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.
a Rotation converged in 7 iterations.

Pengelompokan / Segmentasi

Dari segmentasi menunjukkan terdapat enam kelompok atau segementasi atau enam kelompok yang memiliki karakteristik kemauan, kepentingan dan tuntutan terhadap lembaga kredit yang berbeda :
Segmen I (segmen rasional): terdapat 7 ciri kesamaan dalam system yang djalankan oleh lembaga keuangan kredit yaitu Q7 : Sistem perhitungan bunga kredit : flat atau menurun, Q6 : Besarnya tingkat bunga kredit, Q10 : Jangka waktu Kredit, Q8 : Persaratan barang agunan kredit, , Q11 : Besar angsuran kredit, Q12 : lama proses administrasi kredit
Dalam segmen seperti ini konsumen memperhitungkan kemampuan dalam mengambil kredit sehingga konsumen akan menyesuaikan serta akan memilih lembaga yang sekiranya memiliki unsur yang menyajikan bunga murah, cara perhitungan tidak merugikan konsumen, besarnya angsuran apakah tiap mingguan, bulanan atau tiga bulanan, kemudian lamanya proses pemberian kredit, kemungkinan semakin cepat proses akan semakin menjadikan keunggulan bagi lembaga kredit tersebut.

Segmen II (mengutamakan service/ layanan personil)
Yaitu konsumen yang ingin memperoleh kredit membutuhkan pelayanan yang baik, dihargai dengan cara yang baik sehingga lembaga keuangan kredit harus mampu menyajikan sesuatu yang berkesan baik terhadap konsumen. Kelompok ini mengutamakan Q13 : kemampuan petugas kredit memberika informasi Q14 : kemampuan petugas kredit memberikan konsultasi, Q15 : keramahan petugas kredit, Q16 : fasilitas ruang tunggu.
Dari sini seharusnya lembaga kredit harus menyajikan pelayanan prima, yang berbasis pada service excellent. Hal ini dimungkinkan juga konsumen yang memiliki tingkat kebutuhan pengakuan social yang lebih tinggi, barangkali masalah tingkat bunga dan jangka waktu tidak menjadi masalah karena mungkin konsumen akan mampu membayarnya.

Segmen III (Fasilitas Pelayanan)
Pada segmen ini konsumen telah memperhatikan representasi dari sebuah lembaga dengan tampilan yang baik dan representasi akan menjadi pilihan pada segmen ini, jarak dari outlet ke rumah menjadi pertimbangan dalam pemilihan lembaga kredit, kelompok ini yang mementingkan factor Q19 : fasilitas parker gedung, Q17 : kualitas gedung outlet, Q18 : jarak outlet dari rumah, Q3: Informasi peringkat lembaga, Q20 : Fasilitas ruang tunggu.

Segmen IV (Mementingkan Merk)
Ternyata brand atau merk dari suatu lembaga menjadi penting bagi segmen ini, bonafit atau tidaknya dari lembaga kredit menjadi pertimbangan mendasar, untuk memilih dari lembaga yang bonafit tentunya lembaga tersebut harus memiliki citra yang baik dimasyarakat, kemudian lembaga tersebut sering mendapat pengakuan dan penghargaan dari lembaga survey. Q4 : Nama Perusahaan, Q5 : Negara asal perusahaan

Segmen V (Saran dari orang lain)
Pada segmen ini calon konsumen sangat mempertimbangkan rekomendasi dari teman atau family yang telah memiliki pengalaman sebelumnya sehingga konsumen terpengaruh untuk memutuskan memilih suatu lembaga keuangan. Q2 : saran dan masukan dari orang lain

Segmen VI (Iklan)
Iklan dari suatu lembaga keuangan ternyata menjadi pertimbangan bagi segmen ini untuk memilih suatu lembaga kredit, barangkali semakin intensif dari iklan suatu lembaga akan besar mempengaruhi segmen ini untuk dipilih. Q1 : Informasi yang disajikan di Iklan.






ANALISA III

Pada grafik diatas menunjukkan bahwa apabila menggunakan jasa kredit keuangan untuk pinjaman sebesar Rp 50 juta kebawah responden lebih memilih lembaga kredit dengan prioritas berturut-turut : Bank Syariah (paling banyak dipilih responden), kemudian Bank Perkreditan Rakyat, Bank Umum Nasional Pemerintah menduduki hampir sama dengan bank umum nasional swasta dan koperasi simpan pinjam. Produk Syariah merupakan pilihan tertinggi dibandingkan dengan yang lain hal ini menunjukkan kepercayaan terhadap bank syariah cukup significant. Bagi Perum Pegadaian hal ini dapat dijadikan peluang untuk mengembangkan Pegadaian syariah. Sedangkan Perum Pegadaian tidak ada yang memilih hal ini menunjukkan bahwa Pegadaian tidak menjadi alternative atau pertimbangan dalam penggunaan jasa kredit keuangan. Hal ini terjadi dimungkinkan karena responden ini adalah homogen yaitu kalangan mahasiswa yang mengidentikkan kecenderungan masih muda, rasional dan belum terkontaminasi dengan pemakaian jasa kredit, namun sudah memiliki bayangan jika suatu saat setelah lulus dan melakukan kegiatan usaha / bekerja akan menggunakan jasa kredit. Sealin itu bahwa Perum Pegadaian tidak popular di kalangan mahasiswa. Nah dari hasil penelitian atas survey tersebut saya lebih nyikapi seharusnya hal ini menjadikan tantangan bagi Perum Pegadaian untuk dapat lebih dekat dan memperkenalkan Perum Pegadaian sebagai lembaga jasa keuangan kredit kepada kalangan mahasiswa, barangkali selama ini Perum Pegadaian kurang serius dalam menggarap pangsa pasar mahasiswa (yang mewakili responden tersebut). Sebagai lembaga kredit yang membidik masyarakat menengah kebawah seharusnya Pegadaian concern dalam pangsa pasar ini namun ternyata hasilnya belum menyentuh kalangan mahasiswa sebagai potensi pasar. Karena hal ini dianggap sebagai tantangan yang harusnya menjadikan peluang untuk meraih pangsa pasar mahasiswa Pegadaian harus lebih intens memperhatikan untuk memasarkan lebih luas kepada pangsa pasar mahasiswa. Adapun caranya dapat dimulai dengan menyajikan iklan yang cocok untuk kalangan mahasiswa, penggunaan endoser yang lebih dekat dengan mahasiswa atau melalui penyelenggaraan / event yang melibatkan untuk kaum mahasiswa. Pembuatan program pemasaran bagi kalangan mahasiswa mestinya dibuat kemasan yang lebih khusus agar secara rasional Perum Pegadaian dapat dijadikan alternative dalam pembiayaan (sebagai lembaga jasa kredit keuangan).

Sedangkan untuk pemilihan jasa kredit keuangan untuk pinjaman Rp 50juta keatas resonden banyak memilih Bank Syariah sebagai alternative jasa kredit keuangan sebagai peringkat pilihan paling tinggi diikuti oleh Bank umum Nasional Pemerintah diikuti bank umum nasional swasta dan Bank Perkreditan Rakyat. Dari hasil ini menunjukkan bahwa Bank Syariah berpotensi untuk memperoleh pangsa pasar paling luas. Kemungkinan karena kalangan responden merupakan kalangan atau segmen spiritual yang rasional. Ke depan Syariah harus lebih digarap dengan serius untuk responden seperti ini, Hal ini merupakan peluang yang sangat terbuka lebar dalam mengembangkan pemberian kredit dengan system syariah. Perum Pegadaian harus mampu menangkap kesempatan ini, dalam mengembangkan Pegadaian syariah, outlet-outlet syariah diyakinkan akan menjadi favorit dalam pemilihan lembaga jasa kredit. Kemudian Bank umum nasional pemerintah menjadi alternative kedua setelah bank syariah hal ini mungkin dipersepsikan bahwa tingkat kebangkrutan dari bank umum nasional pemerintah dinilai rendah dan semakin meningkatnya kepercayaan terhadap bank umum nasional pemerintah sehingga BUNP merupakan alternative kedua yang dianggap sebagai pilihan
Berikutnya yaitu responden yang memilih bank umum nasional swasta dan terakhir Bank perkreditan rakyat sebagai alternative atau pilihan sebagai lembaga kredit keuangan untuk mendapatkan kredit.
Dan pada kredit pinjaman diatas Rp 50juta ini Pegadaian bukan menjadi pilihan bagi responden sebagai lembaga kredit keuangan untuk mendapatkan kredit. Kembali lagi hal ini menunjukkan bahwa Pegadaian belum familiar bagi kalangan mahasiswa bahwa Pegadaian bisa menyalurkan kredit diatas Rp 50 juta.
Q24

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Setiap Bulan 1 1,4 2,0 2,0
Tidak Tentu 14 19,7 28,0 30,0
Tidak Pernah 34 47,9 68,0 98,0
Setahun 1-3 1 1,4 2,0 100,0
Total 50 70,4 100,0
Missing System 21 29,6
Total 71 100,0


Hasil analisa responden sebanyak 50 orang dari mahasiswa dalam rutin meminjam uang ke lembaga jasa keuangan ternyata sebagian besar tidak pernah meminjam (34 responden), kemudian diikuti tidak tentu pinjam (14 responden), dan hanya 1 orang pada masing-masing (setiap bulan dan setahun 1-3 kali). Hal ini mengindikasikan bahwa pada kalangan mahasiswa mempertimbangkan dan sangat berhati-hati serta sangat rasional dalam memutuskan apakah akan menggunakan jasa kredit atau tidak mengingat mahasiswa kebanyakan belum produktif (belum mampu menghasilkan uang karena belum bekerja / belum mampu menghasilkan uang dari usahanya), rata-rata biaya masih diberi oleh orang tuanya sehingga tergantung kemampuan orang tuanya, jika cukup mampu maka hal ini bisa dijadikan pangsa pasar untuk meminjam kredit sebelum kiriman uang dari orang tua dating, sedangkan bagi mahasiswa yang pas-pasan maka barangkali tidak pernah berhubungan dengan lembaga kredit keuangan hal ini wajar karena jika hanya sekadar meminjam uang tanpa punya kemampuan mengembalikan tentunya akan menambah masalah.
Dalam hal ini Perum Pegadaian harus memiliki strategi untuk menghadapi mahasiswa yang tidak pernah melakukan transaksi kredit dengan lembaga jasa keuangan ini adalah memberikan informasi pada produk yang bersifat mudah prosesnya dan murah dari tingkat bunganya, jika tidak dengan menawarkan produk lain yang bersifat infestasi seperti investasi emas (produk MULIA = Murabahah Logam Mulia Untuk Infestasi Abadi) dengan skema kredit yang mudah dan murah.

ANALISA IV
Statistics

Q23a Q23b Q23c Q23d Q23e Q23f Q23g Q23h Q23i
N Valid 14 39 1 2 2 9 10 1 3
Missing 57 32 70 69 69 62 61 70 68
Sum 14,00 39,00 1,00 2,00 2,00 9,00 10,00 1,00 3,00


Adapun dalam tujuan penggunaan meminjam kredit ternyata diperoleh hasil bahwa rangking berturut-turut : untuk modal usaha, kemudian sebagai biaya sekolah/kuliah, sebagai membeli kendaraan, sebagai keperluan membeli rumah, dan sebagain kecil sebagai dana cadangan, keperluan makan sehari-hari dan sebagai berobat serta yang terakhir sebagai keperluan membayar hutang dan biaya menikah.
Hal ini harus disikapi bahwa produk kredit yang ditawarkan Perum Pegadaian harus mampu memberikan system yang menarik agar dapat digunakan sebagai referensi untuk mendapatkan modal usaha. Barangkali kalo untuk modal usaha tentunya yang diperlukan adalah harga yang murah (suku bunga dapat bersaing) serta proses kredit yang tidak berbelit-belit.
ANALISA V
Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Q25a 50 1,00 5,00 3,7400 1,24228
Q26b 50 1,00 5,00 3,7000 ,83910
Q25d 50 1,00 5,00 3,6800 ,95704
Q25e 50 2,00 5,00 3,5600 ,90711
Q25f 50 2,00 5,00 3,5000 ,99488
Q25b 50 1,00 5,00 3,2800 ,88156
Q26c 50 1,00 5,00 2,8000 ,83299
Q25c 50 1,00 5,00 2,4800 ,78870
Q26a 50 1,00 5,00 2,0600 ,89008
Valid N (listwise) 50


Dari hasil diatas menunjukkan bahwa urutan hal yang membuat cenderung menghindari menggunakan jasa kredit adalah berturut-turut : 25a : Takut resiko tidak bisa membayar kembali, 26b : Kebutuhan pokok dalam bisnis, 25d menekankan kemandirian, 25e proses administrasi , 25f waktu proses administrasi kredit, 25b tidak mempercayai lembaga jasa keuangan, 26c hal yang wajar dalam kehidupan masyarakat, 25c malu, 26a bagian dari gaya hidup modern.
Hal ini menunjukkan bahwa responden apabila mengambil kredit maka hal yang paling ditakutkan adalah tidak dapat membayar kreditnya hal ini berarti bahwa kalangan ini sangat mengukur kemampuan untuk dapat membayar kembali kreditnya, sehingga cenderung berhati-hati dalam menggunakan alternative kredit, kemudian prioritas dalam berbisnis menjadi pertimbangan yaitu bahwa jika kredit tersebut tidak mengasilkan nilai tambah karena bisnis maka responden cenderung menghindari hal ini mengisyaratkan bahwa menggunakan kredit harus memiliki alasan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Sedangkan kecenderungan berikutnya adalah menghindari kredit karena ingin mandiri atau dapat dikatakan sebisa mungkin dalam menghasilkan nilai tambah tidak tergantung dari lembaga kredit dan berikutnya adalah menghindari proses yang berbelit-belit dan menghindari proses administrasi kredit yang lama.
Berikutnya adalah responden yang tidak mempercayai lembaga jasa keuangan kredit sehingga responden ini sangat selektif dan mempertimbangkan bonafit atau tidaknya dari lembaga jasa keuangan kredit tersebut semakin tidak punya nama di mata masyarakat maka responden akan menghindari kredit. Sedangkan pemilihan responden yang terakhir adalah bahwa responden masih bersifat malu dan kredit hanya sekedar menjadi bagian gaya hidup

Kesimpulan :
-Dari hasil responden, Perum Pegadain tidak menjadi alternative sebagai lembaga kredit jasa keuangan untuk mencukupi kebutuhan dari responden.
-Responden terbesar dalam hal ini adalah kalangan mahasiswa yang bersifat rasional dan menginginkan proses kredit yang tidak lama dan tidak berbelit-belit atau mudah prosesnya.
-Terdapat lima segmentasi yaitu :
1.Segmen rasional
2.Segmen yang menginginkan service / layanan personil
3.Segmen yang memperhatikan fasilitas dari lembaga jasa keuangan kredit
4.Segmen yang mempertimbangkan merk
5.Segmen yang mempertimbangkan saran dari orang lain
6.Segmen yang memperhatikan iklan yang disajikan oleh lembaga kredit keuangan
-Dalam berhubungan dengan lembaga jasa keuangan kredit, mahasiswa pada umumnya tidak pernah dalam melakukan peminjaman uang ke lembaga keuangan kredit, hal ini wajar karena kalangan mahasiswa rasional dalam mempertimbangkan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman.
-Perum Pegadaian harus lebih pro aktif jika ingin membidik pangsa pasar mahasiswa, tentunya dengan kemasan yang menarik bagi kalangan mahasiswa
-Sebagai prioritas penggunaaan Kredit adalah alasan untuk modal usaha, sehingga apabila tidak ada alasan untuk memperbesar usaha / manfaat dari kredit maka akan cenderung menghindari penggunaan kredit.
-Memang terdapat gejala yang agak diluar dugaan, karena seharusnya mahasiswa memprioritaskan penggunaan kredit sebagai pembayaran uang sekolah hal itu ternyata justru menempati urutan kedua setelah keperluan untuk modal usaha, barangkali hal ini mahasiswa sudah memiliki pemikiran untuk melakukan wirausaha setelah lulus, sehingga memerlukan modal usaha. Jika hal ini benar maka peluang Pegadaian ada pada pangsa pasar ini, dengan memperkenalkan lebih dini ke kalangan mahasiswa maka setelah lulus dan memiliki usaha maka Pegadaian bisa menjadi pilihan yang tepat.